Friday, June 18, 2010

22 Akibat Berbuat Maksiat

22 AKIBAT BERBUAT MAKSIAT

By: Baitil Izzah

“Seorang mukmin jika berbuat satu dosa, maka ternodalah hatinya dengan senoktah warna hitam. Jika dia bertaubat dan beristighfar, hatinya akan kembali putih bersih. Jika ditambah dengan dosa lain, noktah itu pun bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah karat yang disebut-sebut Allah dalam ayat, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (HR Tarmidzi)

Tahukah Anda sekalian apa akibat yang menimpa diri kita jika kita melakukan maksiat? Ibnu Qayyim Al-Jauziyah telah meneliti tentang hal ini. Menurutnya, ada 22 akibat yang akan menimpa diri kita. Kerana itu, renungkahlah, wahai orang-orang yang berakal!

1. Maksiat akan menghalangi diri kita untuk mendapatkan ilmu pengetahuan

Ilmu adalah cahaya yang dipancarkan ke dalam hati. Tapi ketahuilah, kemaksiatan dalam hati kita dapat menghalangi dan memadamkan cahaya itu. Suatu ketika Imam Malik melihat kecerdasan dan daya hafal Imam Syafi’iyang luar biasa. Imam Malik berkata, “Aku melihat Allah telah menyiratkan dan memberikan cahaya di hatimu, wahai anakku. Janganlah engkau padamkan cahaya itu dengan maksiat.”

Perhatikan, wahai Saudaraku sekalian, Imam Malik menunjukkan kepada kita bahwa pintu ilmu pengetahuan akan tertutup dari hati kita jika kita melakukan maksiat.

2. Maksiat akan menghalangi Rezeki

Jika ketakwaan adalah penyebab datangnya rezeki, maka meninggalkan ketakwaan bererti menimbulkan kefakiran. Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Seorang hamba dicegah dari rezeki akibat dosa yang diperbuatnya. “ (HR. Ahmad)

Kerana itu, wahai Saudaraku sekalian, kita harus meyakini bahwa takwa adalah penyebab yang akan mendatangkan rezeki dan memudahkan rezeki kita. Jika saat ini kita merasakan betapa sulitnya mendapatkan rezeki Allah, maka tinggalkan kemaksiatan! Jangan kita penuhi jiwa kita dengan debu-debu maksiat.

3. Maksiat membuat kita berjarak dengan Allah.

Diriwayatkan ada seorang laki-laki yang mengeluh kepada seorang arif tentang kesunyian jiwanya. Sang arif berpesan, “Jika kegersangan hatimu akibat dosa-dosa, maka tinggalkanlah perbuatan dosa itu. Dalam hati kita, tak ada perkara yang lebih pahit daripada kegersangan dosa di atas dosa.”

4. Kita akan punya jarak dengan orang-orang baik.

Semakin banyak dan semakin berat maksiat yang kita lakukan, akan semakin jauh pula jarak kita dengan orang-orang baik. Sungguh jiwa kita akan kesepian, suny, dan jiwa kita yang gersang tanpa sentuhan orang-orang baik itu akan terlihat pada hubungan kita dengan keluarga, isteri, anak-anak, bahkan hati nuraninya sendiri.

Seorang salaf berkata, “Sesungguhnya aku bermaksiat kepada Allah, maka aku lihat pengaruhnya pada perilaku binatang (kenderaan) dan isteriku.”

5. Maksiat membuat sulit semua urusan kita

Jika ketakwaan dapat memudahkan segala urusan, maka kemaksiatan akan mempersulit segala urusan pelakunya. Ketaatan adalah cahaya, sedangkan maksiat adalah gelap gelita. Ibnu Abbas r.a. berkata:

“Sesungguhnya perbuatan baik itu mendatangkan kecerahan pada wajah dan cahaya pada hati, kekuatan badan dan kecintaan. Sebaliknya, perbuatan buruk itu mengundang ketidakceriaan pada raut muka, kegelapan di dalam kubur dan di hati, kelemahan badan, susutnya rezeki dan kebencian makhluk.”

Begitulah, wahai Saudaraku, jika kita gemar bermaksiat. Semua urusan kita akan menjadi sulit karena semua makhluk di alam semesta bencipada diri kita. Air yang kita minum tidak ridha kita meminumnya. Makanan yang kita makan tidak suka kita memakannya. Orang-orang tidak mahu berurusan dengan kita kerana benci.

6. Maksiat melemahkan hati dan badan

Kekuatan seorang mukmin terpancar dari kekuatan hatinya.Jika hatinya kuat, maka kuatlah badannya. Tapi pelaku maksiat, meskipun badannya kuat, sesungguhnya dia sangat lemah. Tidak ada kekuatan dalam dirinya.

Wahai Saudaraku, lihatlah bagaimana menyatunya kekuatan fizikal dan hati kaum muslimin pada diri generasi pertama. Para sahabat berhasil mengalahkan kekuatan fisikal tentara bangsa Persia dan Romawi padahal para sahabat berperang dalam keadaan berpuasa!

7. Kita terhalang untuk taat

Orang yang melakukan dosa dan maksiat cenderung untuk tidak taat. Orang yang berbuat masiat seperti orang yang satu kali makan, tetapi mengalami sakit berpanjangan. Sakit itu menghalanginya dari memakan makanan lain yang lebih baik. Begitulah. Jika hobi kita berbuat masiat, kita akan terhalang untuk berbuat taat.

8. Maksiat memendek umur dan menghapus keberkatan

Pada dasarnya, umur manusia dihitung dari masa hidupnya. Padahal, tidak ada kehidupan kecuali jika hidup itu dihabiskan untuk ketaatan, ibadah, cinta, dan zikir kepada Allah serta mencari keredhaan-Nya.

Jika usia kita saat ini 40 tahun. 3/4 nya kita isi dengan maksiat. Dalam kacamata iman, usia kita tak lebih hanya 10 tahun saja.Yang 30 tahun adalah kesia-siaan dan tidak memberi berkat sedikitpun. Inilah maksud pendeknya umur pelaku maksiat.

Sementara, Imam Nawawi yang hanya diberi usia 30 tahun oleh Allah SWT, usianya begitu panjang sebab hidupnya meski pendek namun berkah. Kitab Riyadhush Shalihin dan Hadits Arbain yang ditulisnya memberinya keberkahan dan usia yang panjang sebab dibaca oleh manusia dari generasi ke generasi hingga saat ini dan mungkin generasi yang akan datang.

9. Maksiat menumbuhkan maksiat lain

Seorang ulama salaf berkata, jika seorang hamba melakukan kebaikan, maka hal tersebut akan mendorongnya untuk melakukan kebaikan yang lain dan seterusnya. Dan jika seorang hamba melakukan keburukan, maka dia punahkan cenderung untuk melakukan keburukan yang lain sehingga keburukan itu menjadi kebiasaan bagi pelakunya.

Kerana itu, berhati-hatilah, saudaraku. Jangan sekali-kali mencuba berbuat maksiat. Kalian akan ketagihan dan tidak bisa lagi berhenti jika sudah jadi kebiasaan!

10. Maksiat mematikan bisikan hat nurani

Maksiat dapat melemahkan hati dari kebaikan. Dan sebaliknya, akan menguatkan kehendak untuk berbuat maksiat yang lain. Maksiat dapat memutuskan keinginan hati untuk bertaubat.Inilah yang menjadikan penyakit hati paling besar: kita tidak bisa mengendalikan hati kita sendiri. Hati kita menjadi liar mengikuti jejak maksiat ke maksiat yang lain.

11. Jika sudah seperti itu, hati kita akan melihat maksiat begitu indah. Tidak ada keburukan sama sekali

Tidak ada lagi rasa malu ketika berbuat maksiat. Jika orang sudah biasa berbuat maksiat, ia tidak lagi memandang perbuatan itu sebagai sesuatu yang buruk. Tidak ada lagi rasa malu melakukannya. Bahkan, dengan rasa bangga ia menceritakan kepada orang lain dengan detail semua maksiat yang dilakukannya. Dia telah menganggap ringan dosa yang dilakukannya. Padahal dosa itu demikian besar di mata Allah SWT.

12. Para pelaku maksiat yang seperti itu akan menjadi para pewaris umat yang pernah diazab Allah SWT.

Homoseksual adalah maksiat warisan umat nabi Luth a.s.

Perbuatan curang dengan mengurangi takaran adalah maksiat peninggalan kaum Syu’aib a.s.

Kesombongan di muka bumi dan menciptakan berbagai kerusakan adalah milik Fir’aun dan kaumnya.

Sedangkan takabur dan bongkak merupakan maksiat warisan kaum Huda.s.

Dengan demikian, kita bisa simpulkan bahawa pelaku maksiat zaman sekarang ini adalah pewaris kaum umat terdahulu yang menjadi musuh Allah SWT. Dalam musnad Imam Ahmaddari Ibnu Umar disebutkan bahawa Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapayang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongannya. “

Na’udzubillahi min dzalik! Semoga kita bukan salah satu dari mereka.

13. Maksiat menimbulkan kehinaan dan mewariskan kehinaan

Kehinaan itu tidak lain adalah akibat perbuatan maksiat kepada Allah sehingga Allah pun menghinakannya.

“Dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (Al-Hajj:18) .

Sedangkan kemaksiatan itu akan melahirkan kehinadinaan. Kerana kemuliaan itu hanya akan munculdari ketaatan kepada Allah swt.

“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu….” (Al-Faathir: 10).

Seorang Salaf pernah berdoa, “Ya Allah, anugerahilah akukemuliaan melalui ketaatan kepada-Mu; dan janganlah Engkau hina-dinakan akukarena aku bermaksiat kepada-Mu.”

14. maksiat merosak akal kita

Tidak mungkin akal yang sihat lebih mendahulukan hal-hal yang hina. Ulama salaf berkata, seandainya seseorang itu masih berakal sihat, akal sehatnya itu akan mencegahnya dari kemaksiatan kepada Allah. Dia akan berada dalam genggaman Allah, sementara malaikat menyaksikan, dan nasihat Al-Qur’an pun mencegahnya, begitu pula dengan nasihat keimanan. Tidaklah seseorang melakukan maksiat, kecuali akalnya telah hilang!

15. Maksiat menutup pintu hati.

Allah berfirman, ”Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (Al-Muthaffifiin: 14).

Imam Hasan mengatakan hal itu sebagai dosa yang berlapis dosa. Ketika dosa dan maksiat telah menumpuk, maka hatinya pun telah tertutup.

16. Pelaku maksiat mendapat laknat Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW melaknat perbuatan maksiat seperti mengubah petunjuk jalan, padahal petunjuk jalan itu sangat penting (HR Bukhari); melakukan perbuatan homoseksual (HR Muslim); menyerupai laki- laki bagi wanita dan menyerupai wanita bagi laki-laki; mengadakan praktiksuap- manyuap (HR Tarmidzi), dan sebagainya. Kerana itu, tinggalkanlah semua itu!

17. Maksiat menghalangi syafaat Rasulullah dan Malaikat.

Kecuali, bagi mereka yang bertaubat dan kembali kepada jalan yang lurus. Allah SWT berfirman:

“(Malaikat-malaikat ) yang memikul `Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada- Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman seraya mengucapkan: `Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari seksaan neraka yang menyala-nyala. Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga `Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang soleh diantara bapa-bapa mereka, isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. “ (Al-Mukmin: 7-9)

18. Maksiat melenyapkan rasa malu.

Padahal, malu adalah pangkal kebajikan. Jika rasa malu telah hilang dari diri kita, hilanglah seluruh kebaikan dari diri kita. Rasulullah bersabda:

“Malu itu merupakan kebaikan seluruhnya. Jikakamu tidak merasa malu, berbuatlah sesukamu.” (HR. Bukhari)

19. Maksiat yang kita lakukan adalah bentuk meremehkan Allah.

Jika kita melakukan maksiat, disedari atau tidak, rasa untuk mengagungkan Allah perlahan-lahan lenyap dari hati kita. Ketika kita bermaksiat, kita sadari atau tidak, kita telah menganggap remeh azab Allah. Kita mengacuhkan bahwa Allah Maha Melihat segala perbuatan kita. Sungguh ini kederhakaan yang luar biasa!

20. Maksiat memalingkan perhatian Allah dari diri kita.

Allah akan membiarkan orang yang terus-menerus berbuat maksiat berteman dengan setan. Allah berfirman,

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Al-Hasyir: 19)

21. Maksiat melenyapkan nikmat dan mendatangkan azab.

Allah berfirman, ”Dan apa saja musibah yang menimpa kamu,maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkansebagian besar (dari kesalahan-kesalahan mu).” (Asy-Syura: 30)

Ali r.a. berkata, “Tidaklah turun bencana melainkan kerana dosa. Dan tidaklah bencana lenyap melainkan kerana taubat.” Kerana itu, bukankah sekarang waktunya bagi kita untuk segera bertaubat dan berhenti dari segala maksiat yang kita lakukan?

22. Maksiat memalingkan diri kita dari sikap istiqamah.

Kita hidup di dunia ini sebenarnya bagaikan seorang pedagang. Dan pedagang yang cerdik tentu akan menjual barangnya kepada pembeli yang sanggup membayar dengan harga tinggi. Saudaraku, siapakah yang sanggup membeli diri kita dengan harga tinggi selain Allah? Allahlah yang mampu membeli diri kita dengan bayaran kehidupan surga yang abadi. Jika seseorang menjual dirinya dengan imbalan kehidupan dunia yang fana, sungguh ia telah tertipu!

2 comments:

nur said...

hndaklah kita sbg umat islam menjauhi perbuatan maksiat..=)

nur said...

Nabi s.a.w bersabda: "Malaikat yang di sebelah kanan (yang menjadi penulis kebaikan) ialah ketua kepada yang di sebelah kiri; maka apabila seseorang melakukan sesuatu kebaikan, dituliskan baginya kebaikan itu menjadi sama dengan sepuluh kebaikan yang tersebut, dan apabila ia melakukan sesuatu kejahatan, lalu Malaikat yang di sebelah kiri hendak menulisnya, berkatalah Malaikat yang disebelah kanan: "Tunggu dahulu;" lalu ia menunggu selama enam atau tujuh jam; kemudian jika orang itu beristighfar dari perbuatan jahat itu, tidaklah dituliskan sesuatu pun; dan jika ia tidak meminta ampun kepada Allah Taala, dituliskan baginya satu kejahatan sahaja."